Cerita #3: Mimpiku kandas?
hi babies! it's me, Bella!
pict from twt
Tue, Feb 11th 2020.
ngga kerasa sama sekali ya, perasaan baru kemarin aku sibuk sama UTBK. seminggu lagi aku udah masuk kuliah lagi dan memulai semester 2. udah tau belum aku masuk univ mana? jurusan apa? hehehe.
hari ini aku mau cerita yang menurut aku lumayan deep sih topiknya, karena hari ini aku bakal cerita tentang mimpi aku. aku harap akan ada pelajaran atau hal-hal positif yang bisa kalian dapat setelah melihat dan membaca postku ini ya.
bentar-bentar.. aku lagi dengerin lagunya sung si kyung - every moment with you nih. buat kalian yang suka nangis, suka dengerin lagu-lagu sedih. nih aku saranin denger lagu ini. karena bisa bangeet bikin aku nangis. beneran. apalagi yang piano versionnya. cocok buat kalian yang mau nangisin sesuatu, daripada dipendem gitu kan. hihi
oke, kita mulai ya..
berawal dari aku kecil. well, ngga sekecil itu juga sih. dulu, waktu SD, sekitar kelas 1 atau 2 gitu, aku mulai punya mimpi. aku udah bisa jawab kalo ada orang tanya "kalo udah gede mau jadi apa?". jawabanku cuma butuh satu kata, "dokter". SMP pun sama, ketika aku ditanya hal serupa, aku pun masih menjawab "dokter". begitu juga dengan SMA.
memasuki SMA akhir, alias kelas 12, aku mulai merasa minder dengan mimpiku. banyak banget keraguan yang tiba-tiba muncul. padahal, dari SD-SMA awal aku udah gak perlu mikir lagi kalo ditanya mau jadi apa, karena jawabanku sudah pasti jadi dokter. tapi kenapa aku mulai punya banyak keraguan?
dulu, aku pikir jadi dokter itu cuma butuh kepinteran dan skill-skill tertentu. waktu SD, aku selalu dapet ranking 3 besar. dari kelas 1 sampai kelas 6. waktu SMP pun begitu. selain dapat ranking, aku juga aktif dalam ekskul, organisasi, dan ikut lomba-lomba. jadi aku pede aja pengen jadi dokter. sampai akhirnya aku masuk ke salah satu SMA negeri terbaik di kotaku, bahkan salah satu yang terbaik di Indonesia.
begitu aku memasuki masa-masa SMA, aku kaget bukan main. teman-temanku pintar luar biasa. gaya berbahasa mereka udah kaya orang-orang profesional. sementara aku? ngomong masih amburadul, pinter juga masih kalah jauh sama mereka, skill mereka juga macem-macem dan keren-keren. jujur aja, waktu itu aku sempet stres dan merasa kalo aku tuh ga cocok di SMA itu. aku ngga sepinter temen-temen aku. aku jadi orang yang pesimis, minderan, takutan. aku butuh waktu lama dan harus melewati proses yang gak mudah untuk bisa adaptasi dengan lingkungan baruku pada saat itu.
pelan-pelan, aku semakin bisa beradaptasi, semakin baik juga keadaan aku di SMA. tapi aku masih jadi orang yang pesimis, minderan, dan penakut. dan itu memengaruhi mimpiku. aku mulai takut. mulai meragukan diri sendiri. apakah aku bisa jadi dokter?
semakin dekat dengan waktu seleksi perguruan tinggi, aku semakin sering research, tentang apa saja yang perlu diperhatikan kalau aku ingin menjadi dokter. dari hasil research itu aku belajar, bahwa tanggung jawab untuk menjadi dokter itu besar karena berhubungan langsung dengan nyawa manusia. aku juga jadi paham, bahwa kepintaran itu penting, tapi masih banyak hal lain yang nggak kalah pentingnya. menjadi seorang dokter juga perlu memiliki skill dan karakter tertentu. dan dari research itu aku juga jadi sadar dan ngerasa 'kok kayaknya jadi dokter susah ya.. kok kayaknya aku nggak punya karakter itu ya.. kok kayaknya aku gak bisa ya..'
keraguan akupun semakin diperkuat dengan kenyataan bahwa aku ga diterima di kedokteran salah satu universitas pada saat itu.
tapi aku kekeh dong pengen jadi dokter. karena ya itu mimpi aku! aku pengen bisa bantu orang lain! pengen bisa bermanfaat buat orang lain! aku pengen bantuin mereka yang mau sembuh dari penyakit mereka! aku pengen!
jadi, aku tetep aja berpikir 'gapapa bel, kamu pasti bisa. nanti kamu emang dituntut untuk bisa ngelakuin itu semua. nggak sekarang. nanti. nanti kamu bisa belajar sambil ngelakuin kok.' gitu.
sampai tibalah waktu buat input nilai dan jurusan buat SBMPTN di ltmpt. and guess what?
aku ga daftar kedokteran sama sekali.
alasan kenapa aku ga daftar kedokteran samsek adalah aku sadarrr sama nilai utbk ku ga cukup buat masuk kedoteran. jadi aku cari alternatif lain, yakni FKM dan alhamdulillah waktu itu keterima.
iya, aku keterima di SBMPTN. aku bersyukur bukan main. karena aku dapat kepastian kalau aku nggak harus gap year. tapi tetap, di dalam hati ada kesedihan tersendiri, karena aku harus melepas cita-citaku untuk jadi dokter. nggak cuma kesedihan, lagi-lagi aku ngerasa ada keraguan. something just doesn't feel right. aku galau.. apakah FKM emang yang terbaik buat aku?
mungkin emang udah jalan dari Allah, tiba-tiba papaku ngajak diskusi. ngomongin tentang jurusan dan muncul pertanyaan darinya "kenapa ga ambil manajemen aja?"
wah, belum kepikiran sama sekali mau masuk manajemen. tapi setelah dapet pertanyaan itu, aku langsung research, tentang manajemen. manajemen itu jurusan seperti apa, prospek kerjanya seperti apa, apa aja yang dipelajari, dll.
hingga sampai akhirnya aku memutuskan untuk.. oke. ambil manajemen aja di universitas swasta, karena kalau di universitas negeri aku harus belajar matpel jurusan IPS, sementara aku anak IPA sedari awal penjurusan. tapi apakah aku udah fix menyerah untuk meraih mimpiku menjadi dokter? tentu belum. aku pun tetap mendaftar pendidikan dokter umum ke universitas swasta. hasilnya? belum diterima juga.
alhamdulillah aku diterima sebagai salah satu mahasiswi internasional di salah satu universitas swasta di Jogja, jurusan manajemen. aku memantapkan hatiku untuk memilih manajemen dibandingkan FKM. dan aku harus menerima fakta bahwa, mungkin pendidikan dokter ini bukan jurusan yang terbaik untukku. atau, belum rezekiku pada saat itu. aku sampai sudah riset kos-kosan, karena Jogja bukan kota domisiliku.
tiba-tiba, aku dapet info bahwa salah satu universitas negeri di kotaku membuka pendaftaran untuk kelas international undergraduate program atau yang biasa disebut IUP. salah satu jurusan yang dapat dipilih adalah manajemen. tanpa pikir panjang, aku langsung mengabarkan kedua orang tuaku dan meminta izin untuk ikut pendaftaran tersebut. mereka mengiyakan dan aku pun mendaftarkan diriku.
proses seleksi mahasiswa IUP meliputi tes tertulis bahasa Inggris dan tes lisan dalam bahasa Inggris pula. setelah melewati kedua proses tersebut, pada bulan Juli akhir tahun 2019, aku mendapat pengumuman bahwa aku diterima di universitas negeri tersebut sebagai mahasiswa IUP manajemen. aku bersyukur sekali, karena artinya aku tidak harus ngekos, yang mana artinya lagi, orang tuaku tidak perlu mengeluarkan uang lebih banyak. walaupun jujur, UKT IUP lumayan juga..
aku sadar bahwa kali ini tidak muncul keraguan-keraguan seperti yang kurasakan pada jurusan-jurusan yang kuincar sebelumnya. sehingga aku memantapkan hatiku bahwa inilah jalan dari Allah untukku. inilah jurusan yang terbaik untukku. ya, aku terima fakta bahwa aku bukanlah mahasiswi kedokteran, aku mahasiswi manajemen. walaupun terkadang, ketika aku membaca jurnalku dan melihat diaryku yang menyatakan seberapa besar aku ingin menjadi dokter, aku masih suka menangis. tapi tidak apa-apa. aku terima. pelan-pelan aku akan move on.
di semester satu kuliah, aku fokus beradaptasi pada lingkungan baru. jujur, walaupun aku telah lama tinggal di kotaku, namun karena teman-temanku kebanyakan berasal dari ibukota, aku sempat merasakan perbedaan yang cukup signifikan. tidak lama untukku beradaptasi dengan teman-teman baruku ini.
surprisingly, tidak lama juga untukku beradaptasi dengan jurusanku ini, bisa dibilang aku sangat menikmati apa-apa yang kupelajari, apa yang kubahas, dll. hal ini membuat aku bermimpi kembali. aku memiliki cita-cita baru lagi dan bukan tentang kedokteran. ternyata, cita-cita juga bisa beradaptasi!
yah, mungkin sekian dulu ceritaku kali ini. ya, ini tentang mimpiku menjadi seorang dokter yang kandas, tapi aku punya mimpi baru. dan aku sedang berjuang untuk menggapai mimpi baruku. nggak ada salahnya aku rasa, apabila kita memiliki mimpi baru.
well, bye!!
warm regards,
bella <3

0 komentar